MEEPAGO.COM,NABIRE-Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus mematangkan rencana pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Papua Tengah yang diproyeksikan menjadi rumah sakit rujukan tingkat provinsi.
Saat ini, rencana pembangunan tersebut masih berada pada tahap penyusunan Feasibility Study (FS) atau studi kelayakan untuk Tahun Anggaran 2026. Kajian ini dikerjakan selama 120 hari kalender, mulai Agustus hingga November 2026.
Studi kelayakan tersebut juga menjadi bagian dari penyesuaian rencana setelah adanya perubahan lokasi tapak serta perkembangan regulasi yang harus menjadi pertimbangan dalam pembangunan rumah sakit.
RSUD Provinsi Papua Tengah direncanakan berlokasi di Desa Wadio, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire. Lokasi tersebut dipandang strategis karena memiliki akses yang relatif dekat dengan sejumlah kawasan penting.
Jaraknya sekitar 8 kilometer dari pusat Kota Nabire dan sekitar 8–9 kilometer dari Bandara Douw Aturure. Kedekatan dengan bandara diharapkan dapat menunjang mobilitas serta proses rujukan, khususnya untuk kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan transportasi udara.
Lokasi rumah sakit juga berjarak sekitar 14 kilometer dari rencana kawasan pemerintahan. Dari sisi akses darat, kawasan tersebut terhubung melalui Jalan Poros Wadio, Jalan Sarera dan Jalan Topo.
Lahan yang dipersiapkan memiliki luas sekitar 9.977 meter persegi, dengan potensi pengembangan kawasan hingga empat zona hektare. Kondisi elevasi lahan berada pada kisaran +17 hingga +134 meter.
Dalam perencanaannya, kondisi topografi setempat akan menjadi salah satu pertimbangan utama. Konsep pembangunan diarahkan untuk menyesuaikan desain dengan karakter kontur lahan sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan secara optimal.
RSUD tersebut dirancang tidak hanya sebagai fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai rumah sakit rujukan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat Papua Tengah. Tiga prinsip utama menjadi perhatian dalam pengembangannya, yakni akses rujukan yang cepat, ketangguhan menghadapi bencana, serta konsep ramah lingkungan dan berorientasi pada kebutuhan manusia.
Dari sisi konektivitas, rumah sakit diharapkan mampu memperkuat hubungan rujukan antarwilayah di Papua Tengah sekaligus mengurangi waktu tempuh pasien yang membutuhkan pelayanan lanjutan.
Bangunan rumah sakit juga direncanakan memiliki ketahanan terhadap berbagai kondisi bencana, termasuk gempa bumi dan banjir. Fasilitasnya diharapkan tetap dapat beroperasi ketika menghadapi keadaan darurat maupun cuaca ekstrem.
Sementara konsep green and human-centered diterapkan melalui penyediaan lingkungan penyembuhan, ruang terbuka hijau, efisiensi penggunaan energi, pengendalian infeksi, serta fasilitas yang dapat diakses dan digunakan secara layak oleh penyandang disabilitas.
Kebutuhan pembangunan rumah sakit rujukan tingkat provinsi dinilai semakin penting seiring pertumbuhan penduduk dan kondisi geografis Papua Tengah.
Jumlah penduduk provinsi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1,49 juta jiwa pada 2025 dengan rata-rata pertumbuhan 1,30 persen per tahun.
Keterisolasian sejumlah wilayah dan tantangan akses rujukan antar-kabupaten menjadi persoalan yang perlu diperhitungkan dalam penyusunan fasilitas kesehatan tingkat provinsi.
Sebagai Provincial Referral Hospital, RSUD Papua Tengah nantinya diproyeksikan menyediakan berbagai pelayanan, mulai dari instalasi gawat darurat, rawat inap, rawat jalan, ICU/HCU/MICU/PICU, layanan bedah hingga kebidanan.
Selain pelayanan dasar dan spesialistik, rumah sakit tersebut juga diarahkan menjadi pusat penanganan kasus kegawatdaruratan serta layanan spesialisasi unggulan bagi masyarakat Papua Tengah.
Studi kelayakan yang tengah disusun mencakup berbagai aspek, antara lain kondisi teknis, demografi, epidemiologi, dampak lingkungan, hingga perhitungan kelayakan finansial yang meliputi kebutuhan biaya investasi atau CAPEX serta biaya operasional dan pemeliharaan atau OPEX.
Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi salah satu dasar dalam penyusunan masterplan pembangunan RSUD Provinsi Papua Tengah. Setelah tahapan tersebut, kajian lingkungan berupa Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) juga akan dilakukan sebelum pembangunan fisik memasuki tahap konstruksi.
Dengan demikian, pembangunan RSUD Provinsi Papua Tengah saat ini belum memasuki tahap pembangunan fisik. Pemerintah masih memfinalisasi berbagai kajian agar rumah sakit yang direncanakan dapat dibangun sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan, karakter wilayah, ketentuan teknis dan kemampuan pembiayaan daerah.(**)